rumah klasik

Pengalaman Berkunjung Di Kampung Adat Sade

Posted on

Pengalaman Berkunjung Di Kampung Adat Sade

Memasuki kampung adat tradisional Sade, kita langsung disambut oleh para  pemandu wisata lokal yang akan memaparkan beberapa hal berkaitan Dusun Sade. Ada kurang lebih 700 penduduk yang tinggal di Dusun Sade yang mendiami kira-kira 150 rumah yang ada di wilayah tersebut.

Mereka masih tetap menjaga adat istiadat sisa-sisa kebudayaan suku Sasak semenjak zaman Kerajaan Pejanggik. Biasanya mempunyai mata pencaharian menjadi petani serta memeluk Agama Islam. Golongan perempuannya mempunyai ketrampilan menenun dengan turun temurun.

Dusun Sade mempunyai kelebihan sendiri. Mempunyai adat istiadat yang bisa jadi daya tarik wisata. Arsitektur rumah klasik adat suku Sasak mempunyai filosofi yang kuat. Contohnya, tiap-tiap bangunan mempunyai pintu rumah yang relatif pendek hingga tiap-tiap orang yang ingin masuk rumah mesti menundukkan kepalanya. Dibikin semacam itu dengan filosofi supaya tiap-tiap orang yang akan masuk rumah menghargai serta menghormati pemilik rumah atau yang tinggal di dalam rumah itu.

Rumah Klasik Adat Sade

rumah klasik

Rumah-rumah yang berada di Dusun Sade cukuplah padat, hampir berdempetan atau sekurang-kurangnya mempunyai jarak yang begitu dekat. Rumah-rumah dipisahkan oleh gang-gang kecil hingga cuma bisa dilewati oleh orang dengan berjalan kaki.

Rumah klasik adat dari  Suku Sasak didirikan  dari bahan kayu pilihan dengan dinding dari anyaman bambu. Atap tempat tinggalnya terbuat dari daun rumbia atau alang-alang kering. Ada yang menarik. Lantai rumah Suku Sasak adalah kombinasi tanah, abu jerami, serta getah pohon, lantas diolesi dengan kotoran kerbau.

Mereka mengepel lantai dengan memakai kotoran kerbau. Berbau kotoran kerbau saat masihlah baru diolesi ke lantai masih tetap tercium. Akan tetapi, akan hilang kira-kira 3 jam kemudian, jika telah kering. Kebiasaan mengepel lantai dengan kotoran kerbau masih tetap terjaga sampai sekarang. Saat di tanya faktanya, mereka menyampaikan jika dengan mengepel lantai memakai kotoran kerbau, rumah itu aman dari masalah nyamuk ataupun serangga yang lain. Perihal menarik yang lain, di rumah-rumah Suku Sasak tetap ada lumbung padi, berbentuk bangunan untuk menaruh padi, hasil panen.

Besarnya rumah berkaitan dengan penghuninya. Buat pasangan yang baru menikah, rumah yang dipunyai tidak seluas rumah yang dihuni oleh keluarga yang sudah mempunyai anak. Demikian juga rumah buat orang yang telah tua, cukuplah mendiami rumah yang kecil. Kebiasaan gotong royong masih tetap berasa kental disana.

Budaya gotong royong terlihat saat pembangunan rumah salah satunya masyarakat atau saat perbaikan rumah salah satunya masyarakat yang mengalami kerusakan. Budaya gotong royong yang sekarang ini telah mulai menghilang, jadi salah satunya kearifan lokal yang pantas ditiru.